17 Juli 2013

THE POWER OF OPEN MIND

    Artikel ini kami susun ulang dari tulisan karya Final Prajnanta di f_prajnanta@yahoo.co.id atau finprajnanta@gmail.com supaya bisa menginspirasi pribadi-pribadi yang tertutup atau “Not open minded”. Selamat membaca.
     Bayangkan 2 buah gelas yang kosong. Satu gelas dalam kondisi tertutup dan satunya biarkan terbuka. Ambil teko yang berisi air dan tuangkan ke kedua gelas tersebut. Apa yang terjadi? Gelas yang tertutup tentu tidak kemasukkan air, airnya tumpah ke mana-mana, sementara gelas yang terbuka akan mudah diisi air. Apa yang dapat Anda pelajari dari peristiwa ini? Thomas Robert Dewar (1864 - 1930), pernah mengatakan bahwa "Minds are like parachutes, they only function when open" ( Pikiran kita seperti parasut, akan berguna jika terbuka ). Jadi jika pikiran kita diibaratkan sebagai gelas yang tertutup tadi, tentunya akan susah menerima masukan dari orang lain.
     Lord Kevin, Presiden Royal Society pada tahun 1895 mengatakan bahwa "Heavier-than-air flying machines are impossible."( Sesuatu yang lebih berat dari mesin pesawat udara tidaklah mungkin terbang). Lord menunjukkan sikap yang tertutup, tidak mau mengakui hal yang bersifat ilmiah. Namun tidak berapa lama dari ucapan Lord Kevin, Wright bersaudara membuktikan bahwa pesawat terbang benar-benar bisa terbang. Charles H. Duell, seorang komisaris, kantor paten Amerika pada tahun 1899 mengatakan bahwa "Everything that can be invented has been invented." ( Segala sesuatu yang bisa ditemukan telah ditemukan ). Duell beranggapan bahwa tidak akan ada penemuan baru setelah tahun 1899. Ucapan ini sangatlah keliru karena di setiap penemuan baru maka akan selalu ada penemuan baru lainnya. Pada saat orang sedang asyik mendengarkan musik lewat radio atau tape recorder, tiba-tiba Sony menghentakkan dunia dengan penemuan walkman! Ya sejak saat itu semua orang bisa mendengarkan musik sambil jogging sekalipun lewat walkman. Jika walkman kini sudah dianggap tidak praktis lagi karena ukurannya tergolong besar, maka sekarang orang bisa mendengarkan musik lewat mp3 atau mp4 player yang sudah terintegrasi dengan handphone! Mungkin Anda mempunyai teman yang sangat percaya diri. Saking percaya dirinya, teman Anda ini sulit sekali menerima pendapat orang lain. Apa yang ada di pikirannya adalah dirinya selalu yang paling benar. Dirinyalah yang selalu bekerja paling hebat memajukan perusahaan, orang lain hanyalah "numpang hidup". Orang seperti ini dapat dikategorikan sebagai orang yang berpikiran tertutup. Orang yang pikirannya tertutup akan sulit sekali maju. Dia akan selalu melihat dirinya adalah segalanya, hampir tidak pernah merasakan akan kelemahan dalam dirinya. Orang berpikiran tertutup akan sulit sekali memberi apresiasi ke orang lain. Jika ada orang lain datang dengan masukan yang bagus, pasti akan dilihat dari sisi negatifnya. Orang yang senantiasa berpikiran negatif akan melahirkan perilaku yang negatif pula. Kent Ruth mengatakan bahwa "Men can live without air a few minutes, without water for about two weeks, without food for about two months - and without a new thought for years on end." ( Seseorang bisa bertahan tanpa udara hanya beberapa menit, tanpa air bisa bertahan dalam 2 minggu, tanpa makanan bisa bertahan 2 bulan dan tanpa pemikiran baru selama bertahun-tahun tidak akan lama bertahan ). Maka itu kita harus sadar, kita tidak mungkin hidup tanpa bantuan orang lain. Semakin banyak bergaul dengan orang lain akan mengajari kita lebih menghargai orang lain.
     Ada kisah menarik mengenai harmoni kehidupan antara manusia dan binatang buas. Biksu-biksu di Ranchaburi Thailand melihat kenyataan bahwa di sekeliling mereka dihuni oleh harimau-harimau gunung nan buas. Namun biksu-biksu ini berpikiran positif untuk dapat hidup rukun dengan harimau-harimau liar tersebut. Biksu-biksu yakin seandainya harimau-harimau tadi diperlakukan dengan kasih sayang mereka juga tidak akan memangsa manusia. Tahun demi tahun mereka mulai memelihara anak harimau dengan penuh kasih sayang, lambat laun semakin banyaklah harimau-harimau piaraan para biksu. Harimau-harimau yang ganas karena diperlakukan lemah lembut akhirnya tunduk ke biksu-biksu ini. Mereka dielus-elus dan diajak bermain-main laksana kita bermain-main dengan kucing kesayangan. Hingga kini kuil mereka diberi nama Tiger temple. Akhirnya malah Tiger temple menjadi obyek pariwisata yang mendatangkan pemasukan yang lumayan. Turis-turis pun berkesempatan berfoto bersama dengan harimau-harimau yang semula buas ini.
     Semakin terbuka pikiran kita akan membuat kita semakin maju karena kita bisa menerima masukan dari orang lain. Masukan dari orang lain sangatlah penting karena orang lain bisa melihat sisi yang tidak bisa kita lihat. Menjadi orang berpikiran terbuka akan melatih kita untuk selalu mencari terobosan-terobosan baru yang tidak pernah kita lakukan sebelumnya. Ingat jika kita hanya melakukan hal-hal yang sama dilakukan orang lain kita akan menjadi orang rata-rata. Orang yang sukses menjadi berbeda dari orang rata-rata karena orang sukses melakukan sesuatu yang berbeda dari orang kebanyakan. Liem Swie King, penemu " King smash" mengatakan bahwa dia bisa menjadi atlet bulu tangkis sukses di masanya bahkan bisa mengalahkan Rudy Hartono hanya karena dia menambah terus porsi latihannya dibandingkan rekan-rekan atlet bulutangkis lainnya. King jelas tidak mau hanya menjadi pemain bulutangkis rata-rata. Menjadi orang yang berpikiran terbuka menjadikan kita tidak takut akan suatu tantangan dan selalu bisa beradaptasi dengan lingkungan baru sekalipun!

Kualitas Nomer 1

     Percayakah Anda saat membaca label: ‘KUALITAS No. 1’, ditempelkan pada suatu produk yang dijual di supermarket? Seratus persen-kah Anda percaya bahwa produk itu betul-betul berkualitas top? Atau, kita begitu terbiasa dengan istilah ‘kecap nomor satu’, sehingga yang terpikirkan adalah si produsen pasti hanya sekedar ‘mengecap’ saja.
     Sikap tidak percaya pada kualitas sangatlah kuno. Simak apa yang dilakukan oleh para ahli seperti Edwards Deming dan Joseph M. Juran yang tidak ada habis-habisnya mengulik kualitas. Mereka sampai bolak-balik berpindah-pindah tempat tinggal dari Eropa, Amerika, Jepang dan kembali lagi ke negaranya sendiri sekedar untuk meningkatkan keahlian untuk menghasilkan produk berkualitas. Saat sekarang kualitas sudah menjadi ilmu. Ilmu tersebut sudah berkembang menjadi sistem yang di perusahaan yang dengan efisiensi tinggi, seperti Toyota, sudah menjadi budaya yang dikenal sebagai Toyota Production System, Total Quality Management, dan lain-lain. Bahkan ‘kontrol kualitas’ saja sudah bisa menjadi nilai tambah untuk meningkatkan kepercayaan pelanggan yang akan langsung berdampak melipatgandakan penjualan.
      Sendirian maupun dalam tim, atau terutama sebagai pimpinan perusahaan, kita tidak boleh sedikit pun anti-kualitas. Tidak boleh kita terpikir atau berniat sedikit pun untuk menghasilkan barang berkualitas rendah. Permasalahannya sering pada kesulitan mempertahankan kualitas karena kendala waktu, biaya, tuntutan kuantitas, dan ketidaksabaran kita atau anggota tim kerja lainnya. Tengoklah betapa pesawat terbang yang tidak dalam kualitas prima toh diterbangkan. Simak berapa banyak jumlah penumpang di daftar nama penumpang kapal yang tidak sesuai dengan kenyataan. Kesemua praktik ini tidak akan terjadi bila ‘keyakinan’ para profesional yang menggarap tugas di seputar lingkaran kerja ini berorientasi kualitas.
     Tidak percayanya masyarakat pada kualitas memang bisa dimengerti, terutama bila tidak tersedia pilihan produk atau servis lain yang bisa dipilih. Untuk ‘menjual’ bahwa kita sungguh-sungguh memperhatikan kualitas, kita bisa coba untuk ‘membalik’ istilah kualitas menjadi ‘tanpa salah’. Dalam sistem apapun, pengembangan kualitas akan kembali pada penggarapan kesalahan. Kalau saja kita jago medeteksi kesalahan, berupaya tidak mengulangi kesalahan, dan kemudian merancang suatu program yang ‘error free’, maka kita bisa benar-benar berharap untuk mengatakan bahwa kualitas kita nomor satu. ‘MEMILIKI’ Kualitas Teman saya, seorang desainer grafis, merasa putus asa dengan kerja para asistennya. “Setiap saya menemui klien tanpa memeriksa hasil pekerjaan anak buah saya, saya jadi malu sendiri, karena pekerjaan tersebut tidak pernah perfect. Kepandaian mereka lebih daripada saya. Saya tidak habis pikir, apa sih susahnya untuk mengecek ulang pekerjaan mereka sebelum diserahkan?” Kelihatannya, masalah kualitas masih sering ’diposisikan’ ada di pihak lain, bisa di pihak atasan atau hanya di bagian ’kontrol kualitas’ saja. Bawahan, seperti yang dialami teman saya ini, tidak menunjukkan rasa kebanggaan ataupun rasa memiliki terhadap ’kualitas’ dari pekerjaan yang mereka garap. Sampai kapan pun, kualitas nomor satu tidak bisa terjual di perusahaan seperti ini. Untuk menghasilkan kualitas nomor satu, setiap orang, pada setiap langkah proses, harus meneliti kesalahan bagaikan ’mencari kutu’. ‘MERAWAT’ Kualitas Pernahkah Anda mendengar, “Tidak ada waktu untuk perencanaan, kita dikejar deadline, just do it sajalah…”, atau “Kita sudah pernah ‘ membuat planning, tidak jalan bukan?”. Padahal, dalam ’merawat’ kualitas, kita perlu membuat peta proses pekerjaan dan meramal di mana titik-titik kritisnya. Ini membuat setiap pelaksana tugas menjadi ‘awas’ terhadap jebakan kesalahan yang mungkin terjadi di bagiannya dan kemudian rajin menginspeksi. Kekerasan hati dan sense of urgency untuk menemukan kesalahan, memperbaiki dan menggarap produk atau servis yang error free adalah hal yang sulit , tetapi harus menjadi keyakinan setiap orang dalam rantai produksi. Sadarkah kita mengapa produk furnitur kayu di Itali tidak pernah pecah termakan cuaca? Dalam proses pembuatannya, kayu bahan furniture dijemur di udara terbuka, proses ini yang mereka sebut sebagai “weathering”, dan setiap 2 minggu sekali digeser menyambut matahari yang bergerak. Waktu penjemuran sangat standar dan tidak bisa dikurangi sedikit pun, walaupun ada permintaan pasar atau pelanggan maha penting sudah menunggu. Selain kekuatan otot untuk menggeser kayu jemuran, kekuatan hatilah yang menjamin kualitas produk. Kualitas nomor satu adalah TANTANGAN Bayangkan reaksi kita bila mendengar, ”Proyek selesai, tetapi ‘overbudget’, lewat deadline, dan penuh kekurangan di sana-sini”. Apakah kita akan sekedar menghela nafas dan dan mengatakan: ”Capeee’ de...”? Kalau kita menanamkan dalam diri bahwa KITA-lah penentu kualitas, maka kita bisa bersikap lain. Kita perlu mengejar suksesnya kualitas, perlu merayakan kemenangan bila kualitas memang nomor satu. Kita juga perlu mengembangkan sikap mental karyawan dari projek-projek kecil yang mudah dikontrol, sehingga ’sense of success’-nya juga lebih mudah dicapai. Dengan demikian ’error’ tidak lagi menjadi ’benda’ yang menakutkan, tetapi justru jadi tantangan. Bagaimana? siapkah kita menerima segala tantangan dan menjadi nomer 1?