Bacaan Baru
Ayahku lagi sibuk bolak-balik kertas yang di dapatkan dari kantornya.Udah hobby kali, yang namanya orang pengen tahu pasti tisdak pernah lepas dari belajar dan terus dan terus belajar.
Seperti tulisan di bawah ini,ayah bilang tulisan ini di dapat darui atasannya Pak Rizal.
Ayahku lagi sibuk bolak-balik kertas yang di dapatkan dari kantornya.Udah hobby kali, yang namanya orang pengen tahu pasti tisdak pernah lepas dari belajar dan terus dan terus belajar.
Seperti tulisan di bawah ini,ayah bilang tulisan ini di dapat darui atasannya Pak Rizal.
Masalah...... Siapa Takut?!
Dengan berlimpahnya informasi dan akses ke berbagai media, mata kita betul-betul jadi semakin terbuka lebar terhadap adanya berbagai masalah.Kita semakin menyadari bahwa tiada hari di mana kita terbebaskan dari 'masalah', baik yang baru mencuat atau 'cerita lama' yang tidak kunjung terselesaikan. Mulai dari masalah politik, sosial, budaya, ekonomi, juga hankam.Mulai dari yang ringan sampai yang pelik.Mulai dari 'lokal' sampai yang 'global'. Akibatnya masyarakat kita kini semakin wapada dan sadar tentang transparansi, juga semakin mendesak menyuarakan urgensi terhadap penyelesaian berbagai masalah yang ada.
Komentar bermunculan di mail list, blog,koran, bahkan sampai kepada demonstrasi.Apakah kita lihat masalhanya selesai? Tidak juga.Sebaliknya, bila kita sejenak "masuk kedalam sepatu" dan berempati pada para pejabat dan pengambil keputusan,kita juga sebenarnya akan mengerti betapa ribetnya situasi karena banyaknya masalah yang bermunculan, terbengkalai, terlupakan, disembunyikan, atau sengaja diabaikan sehingga tiba-tiba 'meledak', tidak tergarap, tercatat, atau terkontrol.
Jangan Menutup Mata akan Adanya Masalah
Memang ada masalah yang sudah bisa di antisipasi, seperti benjir yang merendam tolmenuju bandara sbgai akibat upaya reklamasi yang tdk bertanggung jawab, namun banyak sekali situasi dimana para eksekutif dan pejabat di hadapkan pada situai yang bukan saja tdk teramalkan, tapi juga sangat dinamis. Meledaknya konsumerisme,urbanisasi,merendahnya martabat,turunnya mutu pendidikan,adalah sebagian contoh dari hal-hal yang tdk teramalkan secara normal, tdk dpt dianalisa melalui rumus-rumus yang sudah ada, apalagi di kendalikan.Hal yang sebenarnya di atas kertas bisa diramalkan, sperti korelasi antara jumlah kursi di seluruh perguruan tinggi dgn penyediaan tenaga kerja profesional,pada kenyataan nya, sulit di terangkan dengan analisa biasa.Rasanya tidak "fair" bila kita beranggapan bahwa hal ini hanya di alami di negeri kita.Beragam masalah "ill-defined" (tidak terumuskan dengan peta yang sistematis), ambiguous (tidak jelas), novel atau baru, yang kita tengah hadapi, pun dihadapi oleh beberapa eksekutif, pejabat, dan pembuat keputusan di tempat dan negara lain.
Tantangan kita, yg bisa kita kerjakan sekarang sesungguhnya adalah peningkatan kesadaran tentang adanya masalah.Bila masalah belum selesai, ini akan tetap menjadi PR dari tim atau eksekutif yang bertanggung jawab untuk menyelesaikannya.Sayangnya, masalah sering dilihat oleh berbagai pihak di dalam organisasi sebagai sesuatu yang perlu di jauhi."Nanti kalau saya buka mulut, dianggap 're-se' lagi", atau "Nanti kalau saya angkat bicara masalah ini,saya disuruh menggambarkan secara detil, bahkan dibebani pekerjaan tambahan.....". sikap seperti ini menyuburkan "terkuburnya masalah",Dihalalkannya ter-pending-nya suatu keputusan, dan tidak tuntasnya implementasi dari suatu keputusan.Komunikasi mengenai identifikasi masalah yang masih "pending" dan keberadaan masalah baru rasanya masih bisa ditingkatkan di setiap instansi.Dengan demikian "sense of urgency" dan akuntabilitassetiap anggota tim pun tetap terjaga.Andaikata saja setiap instansi di negara ini mempunyai kesadaran untuk bersikap "alert" begini, pasti sikap kita lebih PD, gesit, dan optimis.Kita bisa ambil perumpamaan dari lini produksi di TOYOTA.TOYOTA adalh perusahaan yang tidak takut salah, tapi percaya bahwa setiap masalah bisa diselesaikan dan sekaligus menjadi kesempatan untuk berkembang.Dalam produksi ada sistim di mana setiap karyawan boleh menarik tuas 'andon-cord', yaitu semacam alarm, utk menandakan adanya masalah. Hanya dengan cara inilah setiap orang dalam tim meningkatkan "alertness" thdp bahaya turunnya kualitas dan mengantisipasi munculnya masalah yang lebih besar lagi.Hal yang paling penting di sini, adalah bahwa setiap individu diajarkan untuk mengidentifikasi masalah dan kemudian mengontrol penyelesaiannya.
"Yah sayang banget waktu d warnet ayah ga lama jadi tulisannya bersambung deh, tunggu lanjutannya ya" :) Royyan (9th July 2008)
Komentar bermunculan di mail list, blog,koran, bahkan sampai kepada demonstrasi.Apakah kita lihat masalhanya selesai? Tidak juga.Sebaliknya, bila kita sejenak "masuk kedalam sepatu" dan berempati pada para pejabat dan pengambil keputusan,kita juga sebenarnya akan mengerti betapa ribetnya situasi karena banyaknya masalah yang bermunculan, terbengkalai, terlupakan, disembunyikan, atau sengaja diabaikan sehingga tiba-tiba 'meledak', tidak tergarap, tercatat, atau terkontrol.
Jangan Menutup Mata akan Adanya Masalah
Memang ada masalah yang sudah bisa di antisipasi, seperti benjir yang merendam tolmenuju bandara sbgai akibat upaya reklamasi yang tdk bertanggung jawab, namun banyak sekali situasi dimana para eksekutif dan pejabat di hadapkan pada situai yang bukan saja tdk teramalkan, tapi juga sangat dinamis. Meledaknya konsumerisme,urbanisasi,merendahnya martabat,turunnya mutu pendidikan,adalah sebagian contoh dari hal-hal yang tdk teramalkan secara normal, tdk dpt dianalisa melalui rumus-rumus yang sudah ada, apalagi di kendalikan.Hal yang sebenarnya di atas kertas bisa diramalkan, sperti korelasi antara jumlah kursi di seluruh perguruan tinggi dgn penyediaan tenaga kerja profesional,pada kenyataan nya, sulit di terangkan dengan analisa biasa.Rasanya tidak "fair" bila kita beranggapan bahwa hal ini hanya di alami di negeri kita.Beragam masalah "ill-defined" (tidak terumuskan dengan peta yang sistematis), ambiguous (tidak jelas), novel atau baru, yang kita tengah hadapi, pun dihadapi oleh beberapa eksekutif, pejabat, dan pembuat keputusan di tempat dan negara lain.
Tantangan kita, yg bisa kita kerjakan sekarang sesungguhnya adalah peningkatan kesadaran tentang adanya masalah.Bila masalah belum selesai, ini akan tetap menjadi PR dari tim atau eksekutif yang bertanggung jawab untuk menyelesaikannya.Sayangnya, masalah sering dilihat oleh berbagai pihak di dalam organisasi sebagai sesuatu yang perlu di jauhi."Nanti kalau saya buka mulut, dianggap 're-se' lagi", atau "Nanti kalau saya angkat bicara masalah ini,saya disuruh menggambarkan secara detil, bahkan dibebani pekerjaan tambahan.....". sikap seperti ini menyuburkan "terkuburnya masalah",Dihalalkannya ter-pending-nya suatu keputusan, dan tidak tuntasnya implementasi dari suatu keputusan.Komunikasi mengenai identifikasi masalah yang masih "pending" dan keberadaan masalah baru rasanya masih bisa ditingkatkan di setiap instansi.Dengan demikian "sense of urgency" dan akuntabilitassetiap anggota tim pun tetap terjaga.Andaikata saja setiap instansi di negara ini mempunyai kesadaran untuk bersikap "alert" begini, pasti sikap kita lebih PD, gesit, dan optimis.Kita bisa ambil perumpamaan dari lini produksi di TOYOTA.TOYOTA adalh perusahaan yang tidak takut salah, tapi percaya bahwa setiap masalah bisa diselesaikan dan sekaligus menjadi kesempatan untuk berkembang.Dalam produksi ada sistim di mana setiap karyawan boleh menarik tuas 'andon-cord', yaitu semacam alarm, utk menandakan adanya masalah. Hanya dengan cara inilah setiap orang dalam tim meningkatkan "alertness" thdp bahaya turunnya kualitas dan mengantisipasi munculnya masalah yang lebih besar lagi.Hal yang paling penting di sini, adalah bahwa setiap individu diajarkan untuk mengidentifikasi masalah dan kemudian mengontrol penyelesaiannya.
"Yah sayang banget waktu d warnet ayah ga lama jadi tulisannya bersambung deh, tunggu lanjutannya ya" :) Royyan (9th July 2008)