30 November 2008

Dampak Krisis Global di Sektor Perdagangan dan Perindustrian


JAKARTA - Turbulensi finansial global bakal lebih memukul sektor padat karya dibandingkan industri yang padat modal. Karena itu, pemerintah diharapkan segera melakukan langkah antisipasi untuk mengisolasi krisis agar tak menjalar lebih luas.
Direktur Eksekutif Indef Ahmad Erani Yustika mengatakan, sektor padat karya akan jauh lebih terpukul seiring seretnya likuiditas perbankan yang otomatis mengerem pemberian kredit. Tahun depan, BI sendiri memasang target konservatif untuk penyaluran kredit, yaitu sebesar 22-24 persen. Selain itu, depresiasi rupiah mengancam industri yang berkepentingan terhadap impor bahan baku.
"Dua sektor yang paling terimbas adalah perdagangan dan perindustrian," ujarnya di Jakarta kemarin (28/11). "Ini harus diantisipasi, karena kedua sektor itu berkontribusi lebih dari 50 persen PDB dan 30 persen kesempatan kerja," imbuhnya.
Menurut dia, krisis saat ini memiliki dampak sektoral yang berbeda dengan krisis 1998 lalu. Dampak krisis 1998 hanya terpusat pada industri, jasa, dan properti. Sedangkan sektor perkebunan dan pertambangan relatif tertolong karena masih kuatnya ekspor. "Juga karena membaiknya nilai tukar perdagangan akibat depresiasi rupiah saat itu," terangnya.
Krisis 1998 juga hanya berdampak kuat ke sektor padat modal (capital-intensive) dan berorientasi domestik akibat kebergantungan modal impor. Sementara sektor padat karya dan berorientasi ekspor, menurut Erani, kurang terpengaruh.
"Krisis global saat ini akan banyak memukul sektor padat karya, sebab saat ini tak ada lagi fleksibilitas pasar kerja seperti yang terjadi pada 1998," jekasnya. Pada 1998, kata dia, fleksibilitas pasar kerja memungkinkan perusahaan untuk menyerap kejatuhan permintaan upah, bukan jumlah pekerja.
"Jadi, tidak mengherankan, meski PDB jatuh lebih dari 13 persen, tingkat pengangguran saat itu hanya berkisar 6 persen," tuturnya.
Hal tersebut berbeda dengan kondisi saat ini, di mana kelenturan upah sulit diharapkan. (sumber:JP-Sabtu, 29 November 2008)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar