
MUMBAI - Serangan teroris yang mengguncang Mumbai pada Rabu malam (26/11) waktu setempat (Kamis dini hari WIB) hingga kemarin masih menyisakan ketegangan di pusat bisnis India tersebut. Apalagi penyelidikan oleh aparat belum mengarah pada kelompok militan mana pun. Selain empat yang ditembak mati dan sembilan yang dibekuk, tersangka pelaku lain masih bebas berkeliaran.
Dugaan awal, peneror adalah kelompok militan radikal dari Pakistan. Tapi, tidak tertutup kemungkinan bahwa pelaku aksi keji itu justru teroris India sendiri. Satu pertanyaan besar yang tersisa, mengapa mereka melancarkan serangan maut tersebut di Mumbai? Hingga kemarin (28/11), teror yang menewaskan sedikitnya 143 orang (bertambah dari angka semula yang 125 orang) tersebut masih menyisakan drama penyanderaan di dua hotel mewah Mumbai, Taj Mahal Palace and Tower Hotel dan Trident Oberoi Hotel, serta Jewish Centre (Pusat Studi Yahudi).
Kepada The Independent, sejumlah analis keamanan menyatakan kecurigaan mereka terhadap militan India dan kelompok separatis Kashmir. "Sekilas, serangan itu memang tampak seperti perbuatan kelompok Indian Mujahedin yang sedang rajin mengobarkan gerakan mahasiswa Islam," ujar Nigel Inkster, analis senior International Institute for Strategic Studies yang juga mantan wakil direktur MI6.
Indian Mujahedin terbentuk dari Gerakan Mahasiswa Islam India (Simi) yang sudah lama dilarang pemerintah. Anggota kelompok garis keras itu, konon, menerima bantuan finansial dan pelatihan di Pakistan. Mereka juga mempunyai hubungan yang cukup dekat dengan militan Kashmir. Sebelumnya, Indian Mujahedin disebut-sebut sebagai pelaku serangan bom di Uttar Pradesh pada November 2007. Juga serangan bom kereta yang menewaskan 187 orang dua tahun lalu.
Teroris domestik India yang juga masuk dalam daftar tersangka adalah kelompok anyar, Deccan Mujahedin. Sebab, tidak lama setelah serangan dilancarkan, kelompok tersebut mengklaim sebagai pelaku ledakan yang mengakibatkan lebih dari 327 orang terluka. Namun, penyelidikan lebih lanjut menyatakan bahwa Deccan Mujahedin hanyalah nama lain dari kelompok militan yang sudah sering melancarkan serangan serupa.
Dugaan lain mengarah pada kelompok separatis Kashmir yang memang terlibat konflik serius dengan India dan Pakistan. Apalagi salah seorang pelaku yang bersarang di Jewish Centre sempat mengontak stasiun TV India dan berbicara dalam bahasa Urdu dengan aksen Kashmir. "Apakah Anda sadar berapa banyak muslim yang sudah menjadi korban pasukan Anda? Tahukah Anda berapa banyak di antara mereka yang terbunuh pekan ini di Kashmir?" serunya seperti dilansir The Independent.
Kendati demikian, dugaan keterlibatan Al Qaidah dalam aksi teror tersebut tidak bisa dikesampingkan. Sebab, sama dengan serangan-serangan lain dari Al Qaidah, serangan di Mumbai itu pun menyasar warga asing. Di Asia Selatan, jaringan teror yang dikomandani Usamah bin Laden itu mempunyai hubungan baik dengan kelompok separatis Kashmir dan agen intelijen Pakistan, ISI.
"Ada banyak dugaan serius yang mengarah pada keterlibatan ISI dalam serangan kali ini," ujar analis keamanan Garry Hindle. Serangan yang rapi dan terkoordinasi serta ditujukan kepada warga asing, tambah dia, menunjukkan adanya keterlibatan pihak asing. Analisis senada dipaparkan Inkster. Menurut dia, adanya sentuhan Al Qaidah dalam aksi teror yang melumpuhkan jantung finansial India tersebut tidak terbantahkan. (sumber:JP)
Dugaan awal, peneror adalah kelompok militan radikal dari Pakistan. Tapi, tidak tertutup kemungkinan bahwa pelaku aksi keji itu justru teroris India sendiri. Satu pertanyaan besar yang tersisa, mengapa mereka melancarkan serangan maut tersebut di Mumbai? Hingga kemarin (28/11), teror yang menewaskan sedikitnya 143 orang (bertambah dari angka semula yang 125 orang) tersebut masih menyisakan drama penyanderaan di dua hotel mewah Mumbai, Taj Mahal Palace and Tower Hotel dan Trident Oberoi Hotel, serta Jewish Centre (Pusat Studi Yahudi).
Kepada The Independent, sejumlah analis keamanan menyatakan kecurigaan mereka terhadap militan India dan kelompok separatis Kashmir. "Sekilas, serangan itu memang tampak seperti perbuatan kelompok Indian Mujahedin yang sedang rajin mengobarkan gerakan mahasiswa Islam," ujar Nigel Inkster, analis senior International Institute for Strategic Studies yang juga mantan wakil direktur MI6.
Indian Mujahedin terbentuk dari Gerakan Mahasiswa Islam India (Simi) yang sudah lama dilarang pemerintah. Anggota kelompok garis keras itu, konon, menerima bantuan finansial dan pelatihan di Pakistan. Mereka juga mempunyai hubungan yang cukup dekat dengan militan Kashmir. Sebelumnya, Indian Mujahedin disebut-sebut sebagai pelaku serangan bom di Uttar Pradesh pada November 2007. Juga serangan bom kereta yang menewaskan 187 orang dua tahun lalu.
Teroris domestik India yang juga masuk dalam daftar tersangka adalah kelompok anyar, Deccan Mujahedin. Sebab, tidak lama setelah serangan dilancarkan, kelompok tersebut mengklaim sebagai pelaku ledakan yang mengakibatkan lebih dari 327 orang terluka. Namun, penyelidikan lebih lanjut menyatakan bahwa Deccan Mujahedin hanyalah nama lain dari kelompok militan yang sudah sering melancarkan serangan serupa.
Dugaan lain mengarah pada kelompok separatis Kashmir yang memang terlibat konflik serius dengan India dan Pakistan. Apalagi salah seorang pelaku yang bersarang di Jewish Centre sempat mengontak stasiun TV India dan berbicara dalam bahasa Urdu dengan aksen Kashmir. "Apakah Anda sadar berapa banyak muslim yang sudah menjadi korban pasukan Anda? Tahukah Anda berapa banyak di antara mereka yang terbunuh pekan ini di Kashmir?" serunya seperti dilansir The Independent.
Kendati demikian, dugaan keterlibatan Al Qaidah dalam aksi teror tersebut tidak bisa dikesampingkan. Sebab, sama dengan serangan-serangan lain dari Al Qaidah, serangan di Mumbai itu pun menyasar warga asing. Di Asia Selatan, jaringan teror yang dikomandani Usamah bin Laden itu mempunyai hubungan baik dengan kelompok separatis Kashmir dan agen intelijen Pakistan, ISI.
"Ada banyak dugaan serius yang mengarah pada keterlibatan ISI dalam serangan kali ini," ujar analis keamanan Garry Hindle. Serangan yang rapi dan terkoordinasi serta ditujukan kepada warga asing, tambah dia, menunjukkan adanya keterlibatan pihak asing. Analisis senada dipaparkan Inkster. Menurut dia, adanya sentuhan Al Qaidah dalam aksi teror yang melumpuhkan jantung finansial India tersebut tidak terbantahkan. (sumber:JP)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar